jump to navigation

Air sumber kehidupan 4 Agustus 2008

Posted by bluestarlely in Membuka Dunia.
trackback

Pontianak dalam beberapa hari ini terasa sangat panas, hujan sudah jarang turun. Udara pun jadi terasa gerah dan menyesakkan. Dan yang lebih parah adalah hidungku mulai mendeteksi adanya bau asap, ya di Pontianak ini kalau nggak hujan seminggu aja dijamin udah mulai tercium bau asap, dan satu minggu kemudian kamu bakalan nemuin serpihan-serpihan abu pembakaran hutan memenuhi udara, beterbangan kesana kemari, menyelimuti setiap benda apapun. Atap rumah, halaman rumahmu, mobil dan motor yang di parkir di luar garasi, melapisi dedaunan dan bunga-bunga yang indah, dan bahkan manusia-manusia yang tengah sibuk dengan aktivitasnya di luar rumah.

Dan biasanya kalau panas yang menggila disertai bau asap dan hujan abu ini terus berlanjut dan memasuki hitungan bulan, maka hal berikutnya yang akan terjadi adalah kekurangan air. PDAM Pontianak yang sumber air utamanya hanyalah dari air Sungai Kapuas akan mulai kesulitan mensuplai air kepada warga, kalaupun ada air yang tersalurkan adalah air dengan kualitas yang sangat rendah, duh saya aja sering ngerasa gatal-gatal setiap selesai mandi . Gimana nggak terasa gatal, air ini berwarna keruh, terasa lengket di kulit dan asin. Itu pun harus diperoleh oleh warga dengan susah payah, warga harus saling berebut air dengan cara menyedotnya menggunakan pompa air, akibatnya tagihan listrik pun ikut membengkak. Saya juga nggak ngerti kenapa di Pontianak ini rata-rata setiap rumah harus punya pompa air, katanya sih kalau nggak punya pompa nggak bisa ngalir airnya, lah trus apa fungsinya pipa PDAM dong?

Anyway, hal ini bikin miris banget, sebab beberapa waktu lalu saya mendengar liputan di TV kalau Banjarmasin sudah bisa menyediakan air ledeng siap minum kaya di Amerika. Pontianak? Waduh, untuk bisa dapat air bersih setiap hari saja sudah Alhamdulillah banget. Kapan ya Pontianak bisa mendapatkan air bersih yang memadai untuk seluruh warganya tanpa perlu menggunakan pompa air?

Tapi kalau diperhatikan pun kehidupan di Pontianak ini sudah terbiasa dengan kondisi air yang tak baik. Kalau kita melintasi jalan-jalan di sekitar daerah Sungai Jawi dan Parit Haji Husin, maka kita bisa melihat potret kehidupan kelas bawah di kota ini. Penduduk masih menggunakan air selokan sebagai MCK. Saya sebut selokan sebab aliran airnya terhitung kecil untuk bisa disebut sungai (kecuali daerah Sungai Jawi yang lumayan besar). Kondisi air ini, saya ambil sampel di Parit Haji Husin, sangat memprihatinkan, airnya berwarna coklat pekat nyaris hitam dan hampir tidak mengalir dengan baik, selain itu juga bercampur dengan air hasil limbah rumah tangga warga yang sudah memasang jaringan pipa ledeng dirumahnya. Kadang saya melihat seorang wanita tengah mandi dan mencuci, sedangkan tak jauh dari tempatnya melakukan aktivitas tersebut saya melihat saluran air kecil yang berasal dari sebuah rumah besar tengah mengalirkan air yang lumayan kotor, tapi si wanita acuh saja tanpa memperdulikan air kotor yang bercampur dengan air yang tengah ia gunakan. Saya tak mengerti mengapa mereka bisa begitu saja menggunakan air yang terlihat kotor itu, apakah karena sudah terbiasa atau memang kondisi yang tak memungkinkan bagi mereka untuk mendapatkan air bersih.

Menurut para ahli, air bersih yang ada di dunia ini hanya 3% saja yang berhasil digunakan. Sedangkan sisanya tak terjangkau atau membutuhkan teknologi tinggi dengan biaya yang juga tinggi untuk menjangkaunya. Air-air tersebut tersembunyi jauh di dalam perut bumi dan membeku dalam gletser yang ada di puncak gunung yang tinggi. Kebayang deh gimana cara mengambil air dan membawanya ke peradaban, alangkah susahnya. Saya jadi ingat film Oshin, waktu itu sedang turun salju yang sangat lebat di Tokyo, lalu Oshin menggunakan salju yang menumpuk di depan rumahnya sebagai air untuk keperluan sehari-hari, caranya salju dimasukkan di panci dan dipanaskan diatas api. Waktu itu aku pikir praktis banget, coba di Indonesia juga ada salju ya, hehehe…

Dari susahnya mendapatkan air bersih di Pontianak, maka sudah sewajarnya jika kita belajar untuk berhemat akan air. Air sebagai sumber kehidupan tentu sangat dibutuhkan di dunia. Air tidak ada karena hujan sudah jarang terjadi, dan mengapa hujan menjadi sangat jarang turun? Jawabannya adalah Global Warming atau pemanasan global. Hutan sebagai sarana pengikat air dan pencipta hujan ditebang dan dibakar seenaknya tanpa ada reboisasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, para aktivis lingkungan hidup yang setiap hari berteriak-teriak demi menjaga hutan (Hidup Green Peace!!!) tak bisa berbuat banyak. Mereka terbungkam dengan adanya ketidakpedulian pemerintah akan lingkungan, mereka tersandung pada kenakalan para penebang liar yang hanya peduli dengan nasib hidupnya, atau pada para pemilik HPH yang hanya bisa mengumbar janji-janji palsu tentang bantuan bibit pohon guna penghijauan, serta sederet hambatan lainnya yang terlalu banyak untuk diungkapkan.

Pontianak, Kalimantan, hanyalah sedikit gambaran kecil akan ketidakpedulian manusia pada lingkungan, pada alam. Manusia hanya ingin mengeruk, mengeksploitasi sedalam-dalamnya hasil bumi ini tanpa rencana dan keinginan sedikitpun untuk meremajakannya kembali. Orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan hanya akan mencibir jika kita bicara tentang pelestarian alam, orang-orang golongan menengah hanya akan menanggapi sepintas lalu dan tak acuh, sedangkan orang-orang di kalangan bawah dengan penuh derai air mata akan berkata: Untuk hidup saja kami sulit, apa pedulinya dengan alam?

Sedih sekali menghadapi semua ini. Bumi ini makin tua dan makin rapuh. Hampir tak bersisa lagi sarinya. Lalu siapakah yang mau peduli pada bumi, dengan segenab isinya, hutan, gunung, sungai, laut semua hampir tercemar.

Sudah waktunya bagi kita untuk peduli, tak hanya diam menerima apa yang ada. Kita bisa mendapatkan air yang bersih setiap saat jika kita bisa bijak dalam menggunakannya. Tidak mencemari sungai, laut ataupun danau, tidak membakar hutan dan menebangi pohon membabi buta, tidak mengeksploitasi hasil alam terus-menerus, tidak membuang sampah sembarangan, tidak boros menggunakan energi listrik dan bahan bakar minyak. Jika kita ingin dan berusaha, maka kita pasti bisa.

Tolonglah dunia yang hampir mati ini…..

Komentar»

1. cila - 12 Oktober 2008

kehidupan di Pontianak memang begitu, jadi sabar aja yah….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.